Bukan bebek getarSaya trauma makan bebek. Hidangan lezat ini tidak mampu lagi saya santap karena kejadian yang terjadi saat liburan di semipertengahan tahun 2010.
Liburan tersebut saya habiskan di Jawa Timur. Beragam turis, domestik dan internasional, melancong untuk menikmati pemandangan indah TN Bromo Semeru Tengger. Turis bulenya beragam, ada yang baik, cantik, jorok, dan jahat. Satu turis Belanda galak (
bugal) memarahi ibu-ibu Jawa berjilbab (
bujil) karena telah mencuri tempatnya berdiri sambil menggencetnya. "Saya sudah lama disini! Sekarang saya tidak ada tempat!" gertak
Gertrude Jansen (nama
hipotetikal si bugal) dalam bahasa Indonesia ke bujil. Bujil pura-pura
ora ngartos dan tetap menggencet
Trudi.
Trudi diperankan menlu favorit saya Hilary Clinton (bohong deng saya lebih suka bu Condoleezza), bujil diperankan Manohara yang sekarang bukan lagi sensasi rumah tangga/bom dapur
Lalu ada turis baik yang mau diajak foto oleh sekelompok anak muda dari subkultur alay. Ada turis Jerman lucu yang kepeleset dan langsung membuat keramaian ala
Jerzhi Shor. Ada turis yang anaknya berambut pirang stroberi mengikal indah. Sebut saja namanya Jonsi. Saya tidak bisa berhenti menatapnya dan bergumam "
aku mau genmu" dalam hati secara telepatis, berharap Jonsi cilik mendengar dan bersimpati dalam bahasa Eslandia.
Turis jerman kepeleset, persis seperti ini. Gaunnya, ekspresinya, dialognya, persis. Kecuali si tujer adalah seorang laki-laki paruh baya.Sebelum pulang ke kota asal (sebut saja Jakarta), saya mencicip bebek goreng Surabaya; habis 2 potong dada. Di bandara Surabaya saya melihat keluarga muda kaukasia bahagia yang beranak batita, yang hendak menuju Jakarta. Anggap saja nama mereka
Jan---si suami yang kausnya terlihat keren dari belakang---,
Lotte---si istri pirang bermata biru---, dan
Daan---si kecil yang sulit ditebak kelaminnya---
de Jong dari Maastricht, Belanda
(nebak.com). Uniknya mereka menggunakan maskapai penerbangan
low cost yang sama dengan saya, tidak seperti turis ekspat lain. Insting saya mengatakan mereka keluarga
hippie yang
kool dan hobi
backpacking.
Pesawat kami siap mendarat. Setibanya di area klaim bagasi, saya berkesempatan untuk menyaksikan sisi depan kaus milik Jan de Jong. Ekspektasi melambung, di otak saya sudah menggenang banyak kemungkinan yang ada di depan kaus itu. Mungkin ada tulisan "Heil Tsubasa!", atau cover God Save the Queen milik Sex Pistols yang diedit menjadi muka ibu Sri Mulyani, atau hal provokatif lainnya khas kebebasan berpendapat zaman sekarang.
Ternyata sisi depan kaus tersebut adalah---
jeng jeng jeng---tulisan "
gue gak gendut kok" waduh!
Ilustrasi keluarga de Jong di pinggir pantai Situbondo
Imaji keluarga de Jong di kepala saya hancur seketika. Tidak ada lagi citra keluarga stereotipikal Eropa yang
open minded dan suportif kepada orientasi
sek anaknya; seandainya
Daan adalah seorang
huomosek; berpersonil Jan, Lotte, dan Daan. Yang ada hanyalah keluarga Eropa pencinta humor,
upin maindit yang akan membuncit pada usia 40-an berpersonil
Jåà@n,
Lonte, dan Daan (kali ini dibaca bukan dengan a panjang tapi seperti Da'an di frase Daan Mogot).
Mereka pun beranjak pulang menggunakan bus yang bertujuan Blok M (insting mengatakan sepertinya mereka tinggal di bilangan Kemang). Kepergian mereka mengawali penderitaan saya. Ya, selepasnya mereka saya langsung muntah-muntah seharian karena bebek goreng yang saya makan sebelumnya.
Gambar pinjam dari shutterstock.com, filmpendek.com, a11news.com, dan foto Hilary Clinton dari angrywhitedude.com dengan kata kunci pencarian "angry white woman". Dengan suntingan gambar lebih lanjut.
Labels: Jalan Jejalanan, Kisah Nyata