
Tiga hari lalu, saya meminjam ponsel milik teman yang diproduksi oleh
perusahaan yang beralamat di 1 Infinite Loop. Saya melihat foto-fotonya agar tetap terjaga dengan kehidupan sosial remaja. Salah satu foto diambil saat syukuran ulang tahun teman saya yang lain,
oknum N. Pada foto itu ada seorang wanita lanjut usia yang sedang duduk, tersenyum, berpose pada kamera. Saya tanya kepada pemilik ponsel yang diproduksi oleh
perusahaan yang beralamat di 1 Infinite Loop (yang sering orang awam sebut
iPhone), "ini neneknya
oknum N?", "...hah nggak tau deh tanya aja langsung ke
oknum N" jawabnya sambil tertawa.
Saya menanyakan kepada teman baik
oknum N,
oknum E. "Iya! Itu neneknya
oknum N!" kata
oknum E dengan yakin. Saya tanya langsung ke
oknum N. "Ini nenek lo N?", "Iya... eh, hah siapa itu? Bukan kok... Itu tamu lain yang udah ada disitu sebelumnya".
Oknum E bertanya lagi ke saya, "itu neneknya kan?" dengan yakin dan mantap. Saya tidak mampu menyakiti rasa bangga semunya.
Malamnya saya datang ke acara syukuran ulang tahun seorang teman (sebut saja namanya
Istamar) yang berlokasi di bilangan Kemang dan berencana menebeng teman lain juga (sebut saja namanya
Aroen). "Aroen, lo udah dimana?" tanya saya, "udah deket! Lo nunggu di jalan raya ya! Cepet lari!" jawabnya. Saya panik dan langsung lari melesat ke jalan raya. Semasuknya saya di mobil Aroen saya teringat, "oh tidak belum
farfuman dan memakai krim anti jerawat!". Akhirnya saya meminta parfum wanita Aroen. Aroen memakai parfum wanita bukan karena dia seorang maniak tetapi karena dia memang seorang gadis.
Syukuran itu dihadiri banyak orang dan dipandu oleh seorang wanita jenaka yang menyebalkan. Jika Anda mengenalnya pasti ingin langsung menyuntingnya, karena hari-hari pernikahan Anda akan dijalani dengan tawa sinis, sumpah serapah, dan tampolan. Oh, imaji pernikahan yang paling diidam-idamkan orang.
Suasana pernikahan Anda dengan mbak jenaka
Saya menumpang Aroen lagi untuk pulang. Saat menunggu mobil di pinggir jalan, segerombolan pemuda dalam mobil yang berjalan meneriakkan "hey
guyyzzz!" sambil mabok. Oh, kawasan yang paling diidam-idamkan oleh
semua beberapa orang untuk tinggal.
Keesokan harinya saya mengecek situs jejaring sosial
Facebook. "Sudahkah ada yang mengunggah foto syukuran kemarin dan menandakan (
tag -
red) saya di foto itu sehingga kadar keterkenalan saya bertambah satu poin?". Ternyata belum.
Sambil menjelajah dunia maya, televisi dekat saya berbunyi lagu "
...ibu-ibu bapak-bapak siapa yang punya anak b
ilang aku..."
. "Hah?! Apa ini? Lagu ajakan untuk KB? Langkah bagus buat pemerintah nih, mana lagunya catchy... Tumben iklan pemerintah tidak dibintangi aktris cilik amatir dengan kulit dekil yang dikepang dua" pikir saya. Ternyata itu bukan lagu dari iklan pemerintah melainkan lagu dari iklan "ringtone seru" yang dibawakan band Wali. Berikut saya cantumkan lirik lengkap
Ibu-ibu bapak-bapak Siapa yang punya anak Bilang aku aku yang tengah malu Sama teman-temanku karena cuma diriku yang tak laku-lakuSekarang aku tengah malu karena memuji band RBT yang dulu terkenal karena membawakan lagu balada menyedihkan berjudul "Dik" yang diaransemen ulang menjadi
house-mix ala Daft Punk.
... bekerja sama dengan band paling kece selama 3 dekade
Akhir kata, saya tidak menulis
post diatas saat mabuk.
Foto pinjam dari pemilik ponsel yang diproduksi oleh perusahaan yang beralamat di 1 Infinite Loop, Google, GettyImages; jika itu nenek/ibu Anda laporkan pada saya. Aroen dan Istamar juga memiliki blog dan ada di 'Mereka Yang Berjasa'. Labels: Keanehan Karma, Kisah Nyata