Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke Pasar Mayestik untuk membeli keperluan dekorasi
stand kelas saya di bazar budaya yang diadakan sekolah. Sebelumnya tidak pernah pergi belanja benar-benar sendiri, alasan itu membuat saya cemas sedikit takut.
Rencana awalnya beberapa orang dari kelas kami akan bersinggah ke Pasar Sunan Giri yang terletak di Rawamangun, tetapi karena yang ikut sedikit rencana batal. Alasan lain adalah lokasi Rawamangun jauh dari lokasi
tempat kematian kucing kecil (karena terjatuh) di got dibelakang rumah sedalam 5 meter yang dulu juga pernah menjadi lokasi jatuhnya seragam batik saya. Maksudnya jauh dari tempat dimana saya paling tidak berharap untuk mengakhiri hidup. Untuk yang masih pusing (terpaksa saya tulis) lokasi yang saya maksud adalah rumah saya.
Karena takut sudah tutup, sedatangnya di Pasar Mayestik saya bergegas menuju toko yang disarankan oleh ibunda yang memiliki nama berbau Minang. Saya bertanya pada seorang pramuniaga,
Saya (S) : Mas mau beli kain
daikon (lupa nama kainnya)
Pramuniaga (M) : Apa?
S : Taikon (sambil mengingat)
M : Hah?
S : Haikon! (akhirnya teringat)
M : Oh ini kainnya tersedia dalam banyak warna...
Sambil menunjukkan kain, kemeja atasnya tersingkap dan saya melihat dia memiliki rambut dada seperti Rhoma Irama. Sejujurnya saya kaget, saya tidak pernah tahu pria ras Asia (kecuali dari Timur Tengah) ditumbuhi oleh rambut-rambut halus di sepanjang dada. Rasa kaget yang saya alami saat menemukan fakta ini sama dengan rasa kaget yang saya alami saat menemukan fakta bahwa wanita remaja/dewasa memiliki rambut di daerah ketiak.
Saya memesan kain sepanjang 2 meter dan selebar 1,15 meter dengan beragam warna dan jumlah.
M :Eh meteran
teh mana deui? (Bertanya pada sesama pramuniaga)
S : ... (Saya menyimpulkan dia orang
Sunda dan
hanya orang Sunda memiliki rambut dada)
M : Duo meter
guntiang ado dimana do?
S : ... (Saya menyimpulkan dia orang
Padang dan
hanya orang Padang memiliki rambut dada)
M : Apa mau kain yang ini saja harganya 11,000 tapi lebih tebal? (Bertanya pada sesama pramuniaga)
S : ... (Saya menyimpulkan dia
orang dan
orang memiliki rambut dada)
M : Dek?
S : ... Oh iya iya...
Belanja selesai, teman-teman yang batal ke Pasar Sunan Giri akhirnya jadi. Jika saja saya ikut mereka ke pasar tersebut saya tidak akan belanja sendiri sambil dilihat ibu-ibu Dharma Wanita dan pengajian. Tetapi mungkin juga saya akan melewatkan fakta menarik tentang rambut
vellus manusia. Sayangnya dekorasi
stand untuk bazar tidak seindah yang kelas kami harapkan.
Labels: Kebetulan Karma, Kisah Nyata