Thursday, January 22, 2009
The Unforgettable Fire


Tanggal 20 Januari jam 5 pagi kurang, salah satu rumah di RW saya terkena musibah kebakaran. Ini adalah kali kedua saya melihat kebakaran secara langsung, tetapi melihat langsung petugas pemadam kebakaran beraksi? Pertama kali.


20 menit sebelum menyaksikan ganasnya api melalap rumah tetangga yang tidak dikenal, saya masih tidur. Mimpi saya kali itu bersetting di atas pesawat
Philippine Airline. Kira-kira berikut monolog mimpi saat itu:

Gloria
: (Bahasa Filipina) Ng sayod kulod magangang lengkong hindi macangcanang manilanos ng sariwa lumpia mayongyong (terjemahan kasar: Kebakaran! Kebakaran!)

Saya
: Siapa kamu?

Gloria: (Bahasa Filipina) Ng sayod kulod magangang lengkong hindi macangcanang manilanos ng sariwa lumpia mayongyong (terjemahan kasar: Saya pramugari, Gloria Macapagal)

dan duar, pesawat meledak; mimpi membuyar menjadi kenyataan. Ternyata
mama yang teriak-teriak "Kebakaran! Kebakaran!". Kaget. Raut muka berubah menjadi campuran dari "rumah-yang-sudah-ditinggali-baru-6-tahu-terbakar" dan "Gloria-saya-butuh-tidur-jangan-teriak-teriak".

Ternyata rumah tetangga yang terbakar. Ingat, pesawat yang meledak adalah Philippine Airlines bukan Garuda Indonesia. Nama pramugarinya juga Gloria bukan Rr. I Ketut Sri Aisyah Dewi Situmorang Chaniago. "Oh rumah yang berjarak
50 meter kebakaran" dalam hati saya, tetapi mama tetap panik dan mengamankan barang-barang berharga ke mobil. Truk pemadam kebakaran riuh berdatangan dengan sirene yang menggempar kelurahan. Syur syur bunyi pemadam menyemprot api.

Saya takjub akan kesigapan petugas-pemadam yang pasti bakal sering diundang makan oleh tuan rumah yang terbakar, setakjub tokoh utama komik-komik yang ingin menjadi seorang berprofesi
xx karena terinspirasi oleh pahlawan masa kecilnya, orang berprofesi xx.

Mereka benar-benar hebat. Dengan cepat memadamkan si jago merah yang tidak sejago pemadam kebakaran. Walaupun tidak tertarik untuk menjadi seorang pemadam, saya sangat menghargai profesi yang hampir dikira tidak nyata (semasa kecil sempat terpikir bahwa pemadam kebakaran hanya untuk membohongi anak kecil agar tidak bermain api; seperti Santa Klaus - red). Api akhirnya padam, keluarga saya tidak jadi mengungsi. Jikapun jadi, mobil nggak bisa keluar karena jalan depan rumah terhalangi truk pemadam. Die hard or live hard, rasa kagum saya sedikit berkurang.

Foto c/o abang

Labels:

Tuesday, January 13, 2009
Singin' In The Rain
Hari ini. Bangun, mandi, mengecek telepon genggam, 25 new messages. Nggak deng, cuma 12. Pertama kali melihat agak kaget. "Ini bukan facebook!" pikir saya. Kedua kali melihat agak cemas. "Apa dikirimin jartel (jarkom red) berkali-kali saat saya sudah pulas di alam mimpi jadi tak sempat memforward dan saya kena damprat?".

Saya baca SMS pertama, "oh Songko..". Teman saya Songko suka mengirimkan SMS jenaka yang tidak penting tetapi menghibur. SMS kedua dari Irfan, tentang pemotretan untuk majalah sekolah. SMS ketiga dari Songko lagi. SMS keempat juga dari Songko. SMS kelima dari Songko, tetapi isinya tentang naiknya air di area Bukit Duri. SMS berikutnya dari banyak orang dengan isi kurang lebih sama, "SMA 8 Banjir". Ini adalah banjir kedua sepanjang hidup pendidikan saya di SMA N 8.

Terimakasih jam masuk 0630!


Mungkin kalau masih 0645 (atau 0700 di sekolah lain) genangan air sudah turun dan antisipasi sebelumnya dapat dilakukan!

Sekapur Sirih: Hentikan agresi di Gaza!

Labels:

Thursday, January 8, 2009
Even Better Than The Real Thing
Kemarin dua tante saya berkunjung sepulang liburan di Bali. Saudara saya menjuluki salah satunya tante sepatu, karena kesenangannya akan sepatu berhak (tante satunya disebut tante topi karena alasan yang sepola). Sebelum liburan tante sepatu berkata akan memberikan saya dan abang masing-masing jam tangan bermerek (baca: merèk bukan merék) Sw*tch sebelum keberangkatannya ke Bali. Tidak sabar rasanya membiarkan sebuah produk Swiss menggulung tangan dengan mesra. Saya bukan penggemar berat jam, tetapi merek (baca: merèk bukan merék).

Tetapi jam yang tante berikan berupa jam yang ditargetkan untuk kalangan anak. Satu bergambar ikan-ikan dan bernama Fishy World satu berwarna ungu tapi tak bernama. Saya memanggilnya Widow World. Saya kecewa, sebelum tante berkata "ini koleksi langka". Saya bukan penggemar jam tangan anak-anak, tetapi koleksi langka.

Abang menolak Widow World, akhirnya digunakan papa. Tante sepatu yang sedang ada di Bali mendengarnya. Saya kira beliau kecewa, ternyata perkiraan salah. Kemarin beliau memberikan saya sebuah kotak kacamata. "Katanya abangmu nggak suka jamnya... Kata papamu juga 'bahkan gak dipegang'. Titip ya, ini untuk abang... " dengan logat Jerman utara campur Minang pesisir yang kental. Saya buka kotak yang tidak berbentuk kotak itu, "ini R*y-B*n kesukaan abang kamu dulu di Jerman... Tidak terlalu gelap sih" kata tante sepatu sambil menunjuk kacamata berlensa agak gelap dengan tulisan R*y-B*n di atas kanannya. Ucapan tante dibalas dengan muka iri. Saya bukan penggemar shades, tetapi merek (yang dibaca merèk).

Kotak kacamata itu saya bawa ke kamar. Dalam hati berkata "nose-pad horn-rimmed shades dengan lensa bertuliskan R*y-B*n ini takkan pernah bersandar di atas meja abang di kosannya di Bandung. Insyaallah tidak akan! Muahahaha". Semoga dia tidak membaca post ini.

Labels:

Monday, January 5, 2009
Today No Sunday
Hari ini nggak berbeda dengan hari pertama sekolah pada semester lain, macet, sedikit kangen teman, pelajaran, atau kuliner kantin. Yang membuat berbeda adalah dimajukannya jam masuk sekolah. Dimajukannya jam sekolah, menurut saya, harus diimbangi dengan dimajukannya jam tidur untuk mendapatkan manfaat tidur yang maksimal. Ternyata saya salah.

Tidur saya kurang lelap. Menuju tempat tidur jam 10 kurang 15 malam, siuman selama 2 jam, tertidur 5 jam, bangun lagi.

Kegiatan tidur saya sebelum pemajuan jam masuk sekolah diterapkan, juga tidak berhasil baik. Di sekolah tetap lelah, penyerapan ilmu tidak efektif. Dulu saya pernah tidur jam 11, bangun jam 5, saat bangun terasa fully charged . Rohnya kerasa ada dan hidup. Terkadang saya tidur jam 9, bangun jam 6 kurang, rohnya terasa masih leye-leye, poci-poci, jungkat-jungkit, dan ekspresi kata ulang lainnya. Pola tidur memang random.

Kegiatan sekolah hari ini tidak jauh berbeda. Transfer ilmunya kurang ngena, seperti biasa karena rasa bosan dan capai yang menjulang. Ketidakefektifan istirahat, saya akui menjadi alasan utama.

Malam ini saya akan tidur (lagi). Sisi pesimis berkata paling tidak efektif lagi, sisi optimis ngeles "akan ada perubahan". Semoga tidur nanti akan lebih bermanfaat, mengefek pada kegiatan belajar yang lebih bermanfaat. Hari esok harus lebih baik dari hari ini bukan?
Selamat tidur.

Labels: