DIA berlari, berlari dengan sangat kencang. Layaknya zebra sedang dikejar macan tutul
yang haus akan darah dan lapar akan daging manusia segar.
"Macan-macan" yang haus itu mengejarnya dengan mata hijau.
Tidak, yang mereka cari bukanlah daging manusia segar.
Ya, mereka menginginkan uang.
Di tengah hujan lebat bertaburkan petir dan kilat, dia yang sudah menyipratkan keringat dingin maupun panas, masih terus berlari.
Nafasnya terengah-engah kecapaian. Ia terus berlari dengan kencang, menggunakan sepatu mahal buatan Semenanjung Iberia.
Tetapi, sepatu bermerk Prada itu robek. Kulit ular yang membungkusnya rusak terkelupas. Hak setinggi 5 cm patah, dan kaki kanannya terkilir dan terluka.
Terus mengeluarkan cairan merah.
Sangat banyak.
Deras hujan dan deru petir tak dapat mengalahkan sakit yang dirasakannya. Perlariannya masih panjang. Ia masih dikejar para pelahap uang itu.
Bruk! Dia terjatuh, terjembab ke aspal gang kota New York, terguling. Blazer Massimo Duttinya tersobek. Sangat besar.
Dia melepaskan blazer itu, mencoba berdiri, tapi tidak bisa.
Cairan merah yang dinamakan darah terlalu banyak ia keluarkan, tulang-tulangnya sudah patah.
Para macan-macan itu semakin dekat.
"Tidak bisa. Aku harus berdiri" gumamnya.
Hujan semakin deras. Genangan air semakin besar. Kereta bawah tanah berhenti beroperasi.
Macan-macan itu semakin dekat.
"Aku.. aku.. aku harus menjaga Endah" katanya
Macan-macan itu sudah ada didepannya.
Tas Bottega Veneta yang terlilit di lehernya, berisi lebih dari seratus lima puluh ribu dolar itu diambil.
Koper Travelite yang berisi jutaan dolar itu dicuri.
Baju Chanel itu terkoyak. Tidak, dikoyak.
Dia mati.
Terbunuh.
***
ADALAH seorang wanita berumur dua puluhan. Lahir di kolong jalan layang di bilangan Jakarta. Hidup merana dan sebatang kara.
Tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Usia TK, SD, SMP, SMA, dia habiskan di kolong jalan tol itu.
Tetapi, dia masih bisa makan, masih bisa membeli kebutuhannya.
Dia memiliki pekerjaan.
Sebagai pelacur.
Dia tidak tahu siapa ibunya. Maupun bapaknya. Sejak lahir, dia dirawat oleh seorang pria berumur 50 tahun.
Waria tepatnya.
Tahun itu, tahun 1989, saat ibunya mengeluarkannya dari rahimnya, menitipkan sebuah surat dan uang sebesar lima ratus ribu rupiah kepada waria pengasuhnya.
Yang pada waktu itu, uang lima ratus ribu cukup untuk membeli mobil. Kini wanita 'karir' itu, sudah meninggalkan kolong jalan layang itu. Mengontrak sebuah gubuk
permanen kecil di daerah Taman Lawang.
Wanita itu bernama,
Endah.