Wednesday, July 21, 2010
Staralfur
Selama liburan, saya dan teman-teman membunuh waktu dengan membuat film pendek berjudul Mengintip Peri dibintangi oleh Marshiella (d/h Marsinah) dan Sapto Aji Pamungkas. Silahkan tonton dan nikmati.


Dapat didownload disini.

Tulisan pertama via Paloma (d/h Bat-el)

Labels:

Thursday, July 8, 2010
Jamón, jamón
Mbak Lessy dengan effel Malang

Saya mengidamkan komputer jinjing keluaran PT Effel (samaran, berdasarkan dari pronunciation mbak Lessy untuk sejenis buah tertentu) yang bernama jual Max'sBox Pho (samaran) sejak akhir MULO (SMP). Max'sBox dikenal dengan harganya yang sulit dijangkau dan sifatnya yang tidak pasaran, tapi pasaran.

Meminta barang gejet bukan hal mudah buat saya, karena 2 hal. Fobia penolakan dan rasa kemanusiaan saya yang memikirkan anak-anak di Afrika, Timor Leste, dan di Taman Lawang yang sulit mencari makan. Rasa takut pada penolakan ini menyulitkan saya pada keadaan penyuaraan aspirasi, tawar menawar harga, dan peribadahan. Karena seharusnya saya hanya takut kepada Tuhan O:-)

Transseksual Taman Lawang---maksud saya Tel Aviv idola kita, Dana International, curhat akan masa lalunya. "'a" dibaca "nya" dalam dialek alay

Berbagai skema dan drama laga saya mainkan untuk memperoleh Bat-El (nama hipotetikal yang akan saya berikan kepada Max'sBox Pho; artinya anak perempuan Tuhan, alias gak ada). Pada saat rilis paket ekspansi gim The Sims 2 yang terakhir, komputer desktop saya membutuhkan 3 menit untuk menggerakkan cursor, 30 menit untuk menggerakkan Sim, dan 3 jam untuk tiba-tiba jeblok.

Tapi dibalik api ketidaksabaran dan awan kekecewaan akan performa komputer yang payah ada secercah harapan dan embun licik yang menghasilkan pelangi istiqomah. Fikir saya saat itu jika komputer desktop di upgrade, sedikit kemungkinan untuk bertemu Bat El; yang saya rencanakan dibeli sebelum kuliah. Tapi pelangi istiqomah harus terjajah badai kesengsaraan yang luar biasa hebat, lebih besar dari Katrina, Alex, Melissa, Vega, Gemini, Onyx, dan Javelin. Akhirnya komputer desktop direnovasi menjadi superkompyuter.

Sinetron baru Dana International, Pelangi Istiqomah

Suatu waktu, saya meminta Bat-El kepada orangtua. Mereka (sepertinya) mengiyakan, dan mendukung keputusan itu apa adanya. Tinggal menghitung hari sebelum hari pertama kuliah, tapi ketidakberadaan Bat-El entah kenapa berangsur menjadi bukan hal besar bagi saya. Mungkin perjalanan waktu mendewasakan saya untuk sadar bahwa tidak semua yang saya inginkan itu krusial, atau mungkin superkompyuter sudah mengisi kekosongan relung hati di divisi gejet.

Mungkin Bat-El bukan takdir saya, sesuai arti namanya. Saya juga tidak suka laptop karena keyboardnya nggak njlemesh (sebenarnya ini kalimat denial). Maka dari itu saya harus memikirkan gejet lain yang berhak saya dapatkan tahun ini. iPod touch? (Tapi sayang Alejándra masih bisa memainkan muzic walau tidak bisa dilihat), hard disk eksternal? (Tapi bagaimana jika diisi hal yang aneh-aneh?!?) Wacom? Tidak, tidak boleh. Saya harus memikirkan wajah sedih yang kawaii/aegyo milik anak-anak Afrika, Timor Leste, dan Taman Lawang yang tidak bisa makan hari ini, tapi bisa nonton Piala Dunia (dan di masa depan bisa operasi dada untuk kasus lokasi terakhir).

...dan sekarang Dana punya buah dada artifisial

***

Sebenarnya saya masih ingin Max'sBox Pho.... #dilema #labil #khasremaja
Foto pinjam dari gettyimages.com, akun Dana International Collection di flickr.com
, dengan suntingan lebih lanjut

Labels: ,

Wednesday, July 7, 2010
This Is A Low

Salah satu yang saya lakukan di liburan kali ini adalah menonton film-film yang tidak baru. Di atas adalah kutipan dari film Y tu mamá también yang dibintangi aktor favorit saya Gael García Bernal. Karirnya berasal dari telenovela, sekarang dia sudah main di film garapan Pedro Almodóvar, Walter Salles, Alfonso Cuarón, Alejandro González Iñárritu and Michel Gondry; tiga diantaranya sutradara favorit saya.

Berbicara tentang sinetron, akhir-akhir ini saya selalu kepikiran dengan ibu-ibu hamil yang suka nonton sinetron dan memberi nama anaknya berdasarkan nama sinetron atau budaya pop lainnya. Seperti ibu-ibu yang suka Grey's Anatomy mungkin memberi nama anaknya Gracia Anna Tomy Harahap, atau Desperate Housewives mungkin Despariana Hosiawati Simorangkir, atau ibu-ibu fan Lady Gaga mungkin menamakan anaknya Ladianti Gaga Khairunnisa.


Dengan kata lain adalah, saya kehabisan inspirasi.

Labels:

Saturday, May 29, 2010
Vit Spilum Endalaust
Bukan bebek getar

Saya trauma makan bebek. Hidangan lezat ini tidak mampu lagi saya santap karena kejadian yang terjadi saat liburan di semipertengahan tahun 2010.

Liburan tersebut saya habiskan di Jawa Timur. Beragam turis, domestik dan internasional, melancong untuk menikmati pemandangan indah TN Bromo Semeru Tengger. Turis bulenya beragam, ada yang baik, cantik, jorok, dan jahat. Satu turis Belanda galak (bugal) memarahi ibu-ibu Jawa berjilbab (bujil) karena telah mencuri tempatnya berdiri sambil menggencetnya. "Saya sudah lama disini! Sekarang saya tidak ada tempat!" gertak Gertrude Jansen (nama hipotetikal si bugal) dalam bahasa Indonesia ke bujil. Bujil pura-pura ora ngartos dan tetap menggencet Trudi.

Trudi diperankan menlu favorit saya Hilary Clinton (bohong deng saya lebih suka bu Condoleezza), bujil diperankan Manohara yang sekarang bukan lagi sensasi rumah tangga/bom dapur

Lalu ada turis baik yang mau diajak foto oleh sekelompok anak muda dari subkultur alay. Ada turis Jerman lucu yang kepeleset dan langsung membuat keramaian ala Jerzhi Shor. Ada turis yang anaknya berambut pirang stroberi mengikal indah. Sebut saja namanya Jonsi. Saya tidak bisa berhenti menatapnya dan bergumam "aku mau genmu" dalam hati secara telepatis, berharap Jonsi cilik mendengar dan bersimpati dalam bahasa Eslandia.

Turis jerman kepeleset, persis seperti ini. Gaunnya, ekspresinya, dialognya, persis. Kecuali si tujer adalah seorang laki-laki paruh baya.

Sebelum pulang ke kota asal (sebut saja Jakarta), saya mencicip bebek goreng Surabaya; habis 2 potong dada. Di bandara Surabaya saya melihat keluarga muda kaukasia bahagia yang beranak batita, yang hendak menuju Jakarta. Anggap saja nama mereka Jan---si suami yang kausnya terlihat keren dari belakang---, Lotte---si istri pirang bermata biru---, dan Daan---si kecil yang sulit ditebak kelaminnya---de Jong dari Maastricht, Belanda (nebak.com). Uniknya mereka menggunakan maskapai penerbangan low cost yang sama dengan saya, tidak seperti turis ekspat lain. Insting saya mengatakan mereka keluarga hippie yang kool dan hobi backpacking.

Pesawat kami siap mendarat. Setibanya di area klaim bagasi, saya berkesempatan untuk menyaksikan sisi depan kaus milik Jan de Jong. Ekspektasi melambung, di otak saya sudah menggenang banyak kemungkinan yang ada di depan kaus itu. Mungkin ada tulisan "Heil Tsubasa!", atau cover God Save the Queen milik Sex Pistols yang diedit menjadi muka ibu Sri Mulyani, atau hal provokatif lainnya khas kebebasan berpendapat zaman sekarang.

Ternyata sisi depan kaus tersebut adalah---jeng jeng jeng---tulisan "gue gak gendut kok" waduh!

Ilustrasi keluarga de Jong di pinggir pantai Situbondo

Imaji keluarga de Jong di kepala saya hancur seketika. Tidak ada lagi citra keluarga stereotipikal Eropa yang open minded dan suportif kepada orientasi sek anaknya; seandainya Daan adalah seorang huomosek; berpersonil Jan, Lotte, dan Daan. Yang ada hanyalah keluarga Eropa pencinta humor, upin maindit yang akan membuncit pada usia 40-an berpersonil Jåà@n, Lonte, dan Daan (kali ini dibaca bukan dengan a panjang tapi seperti Da'an di frase Daan Mogot).

Mereka pun beranjak pulang menggunakan bus yang bertujuan Blok M (insting mengatakan sepertinya mereka tinggal di bilangan Kemang). Kepergian mereka mengawali penderitaan saya. Ya, selepasnya mereka saya langsung muntah-muntah seharian karena bebek goreng yang saya makan sebelumnya.

Gambar pinjam dari shutterstock.com, filmpendek.com, a11news.com, dan foto Hilary Clinton dari angrywhitedude.com dengan kata kunci pencarian "angry white woman". Dengan suntingan gambar lebih lanjut.

Labels: ,

Friday, April 30, 2010
Alangkah Lucunya (Peliharaanku Dulu)
Kucing milik teman. Lucu ya, matanya bundar, bulunya indah walau berkutu

Semasa balita, saya punya 3 anak kucing yang induknya seekor wakucing karir; alias suka bepergian. Ketiga kucing mini itu tinggal di dalam laci meja. Tapi kebersamaan "Cintaku di Laci Susun" itu tak berjalan lama, si induk menjemput dan membawa kabur ketiga anak karena alasan yang tak jelas. Mungkin karena the kantor Kucing tempat wakucing bekerja memutasinya ke daerah lain.

Beberapa tahun kemudian saat SD, kehidupanku diwarnai oleh anak ayam cat warna-warni yang harganya Rp1,000.00 yang sering dijual oleh abang-abang depan sekolah. Setiap malam kandang si ayam tie dye diselimuti serbet agar ia tidak ngeliat han2. Suatu hari dia hilang. Saya lupa takdir apa yang mengakhiri hidupnya.

Dari abang yang sama, saya beli keong yang kalau ditiup dapat mengeluarkan kakinya dari cangkangnya yang indah. Di perjalanan pulang dari sekolah, saya tiup-tiup cangkangnya, tapi dia tidak mau keluar. Saya kesal dan langsung melemparnya ke jalan raya dari mobil yang sedang melaju kencang. Kejadian ini mengakhiri hidupnya.

Suatu waktu saya dan keluarga berlibur ke Jawa Timur menggunakan mobil. Disana, kami membeli ayam jantan yang tangguh dan macho. Saat perjalanan pulang yang jauhnya ribuan kilometer, si Yamjan (ayam jantan) bertahan hidup. Dia lebih kuat dari PRT-PRT asal Lampung yang mudah muntah di perjalanan. Saat kami kembali di Jakarta, merebaklah kabar flu burung. Kami langsung menyembelih Yamjan karena histeria yang tidak berbukti konkret. Akhirnya daging ayam diberikan ke tukang bangunan dekat rumah. Si tukang menguliti, menggorengi, mengecapi, dan memakan Yamjan dengan lahap. Kejadian ini mengakhiri kehidupan, dan kemaskulinan Yamjan.

Kucing milik teman. Lucu ya, dia bisa bermain piano, lalu juga bisa bersin.

Setelah berita H5N1 reda, kami dihadiahkan burung beo dari Medan. Rasanya senang sekali punya piaraan yang katanya bisa ngomong. Si Beo tinggal bersama keluarga kami cukup lama, tapi tiba-tiba ia mati mendadak. Ditemukan dengan keadaan terbalik di kandangnya. Kami sekeluarga; termasuk PRT pada masa itu: Siti Munawaroh (asuka; asli Sukabumi); kaget, langsung pergi ke rumah sakit untuk menjalankan berbagai tes. Keadaan rumah sakit tersebut tidak nyaman. Banyak raungan dan tangisan keluarga lain yang kehilangan anggota keluarganya. Bahkan saat kami menuju laboratorium, sebadan jenazah yang dibungkus kantong kuning melewati kami. Tentunya ia tidak jalan sendiri, melainkan diatas bed yang didorong perawat.

Kami negatif flu burung. Termasuk Siti Munawaroh yang langsung menangis haru, sujud syukur dan puasa Daud 7 hari (hiperbola). Setelah kejadian itu, saya meraung-raung minta dibelikan kelinci, seolah dirasuki roh Sri Klinchieywedarieningsiyyh Caiiank Dhyaa (dapat di add di facebook). Walaupun ibunda alergi bulu, permintaanku dikabulkan. Seorang mantan supir menyarankan, "kelinci itu biar gendut makanannya dikasih pur burung!!!". Saya turuti, dan setelah satu minggu, Lynchee si kelinci mati.

Kucing milik teman. Lucu ya, setiap bagian kemaluannya dielus-elus dia langsung melet-melet mengeluarkan lidah dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sebenarnya masih banyak kejadian yang menunjukkan ketidakadaannya chemistry antara saya dan binatang, seperti seekor anjing terlindas bis yang saya naiki, mantan kucing peliharaan yang sekarang karirnya mencuri makanan milik mpok tetangga, atau anak kucing yang jatuh ke got-super-dalam di belakang rumahku. Saya adalah epitom terbaik yang melambangkan manusia sebagai perusak kehidupan dan kebahagiaan makhluk lain. Sekarang, mari berintrospeksi untuk kehidupan duniawi yang lebih baik di masa depan.

Labels: